Dari Tulungagung, Jawa Timur, sebuah wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten melahirkan unit-unit metal ekstrem berbahaya, ROTTENECTOMY datang untuk mengirimkan sinyal kebrutalan. Band slamming brutal death metal yang terbentuk pada 2020 ini menegaskan eksistensinya sebagai salah satu entitas brutal yang konsisten di skena bawah tanah Indonesia. Setelah memperkenalkan diri lewat EP Bestial Satisfaction (2023) di bawah bendera Maxima Music Pro, kini ROTTENECTOMY siap melangkah lebih jauh dengan album penuh kedua mereka: “The Punishment of Hammergod”, dirilis melalui label Sarawak, Malaysia, Dropdead Distro pada 2026 ini.
ROTTENECTOMY digerakkan oleh formasi solid:
WOL (drums), TONY (guitars), dan TEDDY (vocals). Nama-nama lama seperti Kevin (drums) dan Riyan (bass) memang telah meninggalkan barisan sejak 2023, namun kini, ROTTENECTOMY terdengar lebih fokus, matang, dan jauh lebih beringas.
The Punishment of Hammergod bukan sekadar kumpulan lagu slam dan blast tanpa arah. Album ini dibangun di atas narasi kiamat, sebuah gambaran dunia yang telah rusak total, ketika manusia kehilangan jati diri, moral runtuh, dan kehancuran dilakukan secara masif atas nama keserakahan. Dalam kondisi di mana keadilan manusia telah mati, maka menurut ROTTENECTOMY, keadilan langitlah yang harus turun tangan.
Tema ini diterjemahkan ke dalam 10 track yang padat, agresif, dan tanpa kompromi. Sejak intro “SLAMMASSACRE”, pendengar langsung diseret ke atmosfer penuh amarah. Groove slam yang berat, riff down-tuned yang primitif, serta vokal guttural yang kejam menjadi senjata utama ROTTENECTOMY dalam menyampaikan pesan penghukuman kosmik ini.
Salah satu titik paling menarik dari album ini adalah track “TAK SLAMMING NDASMU!!!”, sebuah pernyataan identitas yang keras, lugas, dan "nyeleneh". Menggunakan lirik berbahasa Jawa, lagu ini bukan hanya menjadi track ikonik ROTTENECTOMY, tetapi juga bukti bahwa kearifan lokal bisa hidup berdampingan dengan brutal death metal paling ekstrem. Sederhana, segar, mudah diterima, namun tetap menghantam tanpa ampun.
Di sisi lain, lagu-lagu seperti “THE DANCE MAGGOT”, “LEGION OF HEADHUNTER”, dan title track “THE PUNISHMENT OF HAMMERGOD” memperlihatkan sisi band yang lebih gelap dan serius, penuh nuansa kehancuran, dominasi riff slam, serta struktur lagu yang dirancang untuk menghancurkan panggung dan pit secara bersamaan.
Di album ini ROTTENECTOMY juga mengajak sejumlah nama penting di skena ekstrem untuk mempertebal teror dalam album ini.
-
Ardiansyah Atmosunaryo (DESERTER) hadir di “CRUSHED DICKHEAD MOTHERFUCKER”, membawa energi vokal yang liar dan penuh kebencian.
-
Jossi Bima (Invigorate, Dissanity, dll.) memperkuat “THE BUTCHER FROM HELL”, menjadikannya salah satu track paling buas di album ini.
-
Di sektor gitar, Dheny (MONOTEISME) tampil sebagai guest di “EXITEMENT IN HUMAN SPLATTERED”, menambahkan lapisan riff yang lebih tajam dan sadistik.
Secara visual, ROTTENECTOMY juga tidak main-main. Logo band digarap oleh Ifan Ramadhan, sementara artwork album dipercayakan kepada Andik Godfinger Art, yang berhasil menangkap esensi kiamat, murka, dan kekerasan ilahi dalam satu visual yang brutal dan mencolok.
The Punishment of Hammergod adalah pernyataan keras ROTTENECTOMY , bahwa slamming brutal death metal Indonesia masih hidup, lapar, dan siap menghancurkan batas. Dengan konsep matang, identitas lokal yang berani, serta kolaborasi strategis lintas skena, album ini berpotensi menjadi salah satu rilisan slam yang bisa diperhitungkan pada 2026.
Ketika dunia sudah terlalu rusak untuk diselamatkan, ROTTENECTOMY datang bukan sebagai penebus, melainkan sebagai algojo.






