• MARIONTOPSY

    MARIONTOPSY Akan Segera merilis Album Perdana Mereka bersama Label Asal Spanyol

  • VORTEX OF HATRED

    Band metal asal Jogja ini telah merilis Album Perdana Bertajuk "GALAT"

  • DEATH VOMIT

    Death Vomit Siapkan Album Baru, Rilis Januari Tahun Depan via Brutal Mind

  • WAKE UP KIDS!

    "Titik Temu", Single Pemanasan Untuk WAKE UP KIDS!

  • HORUSH

    Bersama dengan label asal Bandung, yakni Horrible Creation, unit death metal asal kota Jogja, HORUSH merilis album perdana mereka yang bertajuk Armageddon

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2026

Angel Of Death "PESTA BUNUH DIRI" : Manifesto Satir Melawan Penyeragaman Global



Unit melal eksplosif Angel Of Death kembali menggebrak melalui rilisan terbaru mereka yang berjudul "PESTA BUNUH DIRI". Mereka memberi ciri lain melalui eksploarasi musikalitas yang mereka ramu. Bukan sekedar audio yang bisa kalian nikmati, single ini merupakan sebuah tamparan keras terhadap kondisi sosiopolitik global dan hilangnya kedaulatan berpikir manusia modern. "PESTA BUNUH DIRI" tidak berbicara mengenai kematian fisik. Lagu ini adalah metafora satir mengenai "Bunuh Diri Eksistensial”. Sebuah kondisi di mana manusia secara sukarela membunuh nalar, spiritualitas dan keunikan individu demi melebur ke dalam cetakan masyarakat yang seragam.

Angel of Death membedah realitas pahit ini melalui Arsitektur Budaya, dipaksa berdansa mengikuti irama elit global yang menjauhkan kita dari realitas hakiki melalui standar kebahagiaan yang semu.

Kontrol melalui Polarisasi, Menggambarkan kehancuran kolektif di media sosial.  Sibuk saling serang demi membela ideologi yang sebenarnya dikendalikan dari satu sumber yang sama.

Digital Panopticon, Algoritma telah menjadi jeruji besi digital. Dalam "pesta" ini,  data pribadi kita adalah sajian utamanya dan setiap interaksi digital adalah langkah menuju penghambaan total.

Kematian Individu, Perayaan massal atas hilangnya jati diri akibat kontrol sistemis yang tak terlihat namun terasa nyata.

    "Lagu ini adalah pengingat bahwa jika kita tidak segera bangun dan mengambil alih kemudi pikiran kita sendiri,  kita hanyalah tamu yang diundang dalam sebuah perayaan yang bertujuan untuk melenyapkan kemanusiaan kita,". 

"PESTA BUNUH DIRI" telah rilis di berbagai platform streaming  Bersamaan dengan di gelarnya perayaan  PESTA BUNUH DIRI dalam gelaran live show “Ruang Berisik Chapter 8" yg di selenggarakan di pride palace coffee sukabumi. “PESTA BUNUH DIRI" menjadi babak baru yang lebih siap Menuju peluncuran album terbaru yg telah mereka siapkan dalam waktu dekat.

Angel Of Death (AOD) sendiri adalah band asal Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia yang terbentuk pada tahun 1999.  Band ini dikenal sebagai salah satu pelopor dan Penggerak skena musik metal underground di Sukabumi  yang masih aktif hingga saat ini. 

Terpengaruhi oleh band-band death metal, Black Metal, Simphonic dan Progressive metal.

Lineup saat ini : Faizal (vocal) Okky (guitar) Wig (Bass) Adji (Drum).

Walking out from 05:14 adalah Album perdana yg di luncurkan pada tahun 2015, Album ini merupakan rangkuman perjalanan karya angel of death sepanjang tahun 2005-2014. 

Album “Tribute to Big Four” tahun 2017 dan “Hail Reburn” album split  tahun 2024 bersama band asal spain yg hanya tersedia dalam format fisik dirilis melalui metal militia 99 prod.

Deretan single yg tersedia dalam format digital diantaranya Dimensi Logika,Menentang Surga, Simfoni Pesakitan, Melawan Suci & Sabda semesta. Menjadi Track List Andalan untuk memperkenalkan transformasi Angel Of Death saat ini.



Selasa, 23 Desember 2025

Death Vomit Siapkan Album Baru, Rilis Tahun Depan via Brutal Mind


Band death metal legendaris asal Yogyakarta, Death Vomit, dipastikan akan merilis album terbaru pada tahun depan melalui label Brutal Mind. Kabar ini menandai kelanjutan eksistensi mereka sebagai salah satu pionir death metal Indonesia yang masih aktif dan relevan hingga kini.

Album mendatang ini akan menjadi rilisan penuh terbaru Death Vomit setelah beberapa tahun terakhir tetap aktif di panggung ekstrem metal, baik di skena lokal maupun nasional. Meski tanggal rilis resmi belum diumumkan, album ini disebut akan tetap mempertahankan karakter death metal brutal dan agresif yang menjadi ciri khas mereka sejak awal berdiri.

Kerja sama dengan Brutal Mind juga menjadi langkah strategis, mengingat label tersebut dikenal konsisten mendukung rilisan musik ekstrem dengan pendekatan independen dan distribusi yang kuat di skena underground.

Rilis album baru ini sekaligus menjadi momen penting bagi penggemar lama maupun generasi baru penikmat death metal Indonesia untuk kembali menyambut kebrutalan dari Death Vomit.





Mariontopsy Siap Merilis Album Penuh "O LUNA VILE" , Manifesto Slamming Brutal Death Metal dari Yogyakarta

 

Yogyakarta kembali melahirkan entitas brutal dari kancah musik ekstrem. Mariontopsy, unit slamming brutal death metal yang terbentuk pada tahun 2023, mengumumkan rencana perilisan album penuh perdana mereka bertajuk O LUNA VILE yang dijadwalkan meluncur pada awal tahun 2026 dalam format digital dan CD.

Digawangi oleh Evgheniy “Riry” (gitar), Aldi Bimantoro (vokal), Jonas Keenan (drum), dan Bias Subrata (bass), Mariontopsy hadir dengan pendekatan musikal yang brutal dengan tempo berat, slam dominan, groove masif, serta atmosfer yang menekan. Pengaruh band-band seperti Organectomy, Extermination Dismemberment, Abominable Putridity, dan Visceral Disgorge terasa jelas, namun diramu menjadi identitas yang berdiri sendiri.

Konsep Mariontopsy sendiri terasa berbeda dari kebanyakan band slamming pada umumnya, karena mereka memilih mengangkat cerita fiksi karya dari Riry. ya, O LUNA VILE berangkat dari sebuah novel fiksi yang menjadi fondasi utama album ini. Di dalamnya, hadir karakter bernama Luna, sosok simbolik yang menjadi medium narasi dan representasi dari Mariontopsy. Meski tetap mencoba sedikit beririsan dengan tema gore, namun porsinya jauh lebih sedikit dan lebih mengutamakan alur cerita dan penekanan tentang perjalanan Luna, mulai dari latar Luna sebagai anak seorang ilmuwan, tentang kasih sayang, dendam, bahkan percintaan seorang remaja. Karakter ini ditulis dan dikembangkan langsung oleh sang gitaris, Riry, sebagai benang merah keseluruhan album.

“Luna bukan sekedar nama atau tulisan yang selesai setelah dibaca, tapi orang akan mengingatnya” ungkap Mariontopsy dalam pernyataannya. “O LUNA VILE adalah sebuah cerita yang diterjemahkan ke dalam slam, distorsi, dan dentuman yang bisa kami hasilkan dalam sebuah karya.”

Secara musikal, album ini menjanjikan struktur lagu yang padat dan menghantam, dengan penekanan pada groove berat dan dinamika slam yang konstan. Vokal rendah dan agresif berpadu dengan riff gitar yang tebal serta permainan drum yang brutal, menciptakan lanskap suara yang intens dan claustrophobic, sebuah ciri khas slamming brutal death metal modern.

Dengan O LUNA VILE, yang akan dirilis oleh label asal Spayol, Pathologically Explicit Recordings,  Mariontopsy menegaskan posisi mereka sebagai salah satu unit baru yang patut diperhitungkan di skena death metal Indonesia, khususnya dari Yogyakarta. Album ini tidak hanya menjadi penanda eksistensi, tetapi juga pernyataan arah musikal dan konseptual mereka ke depan.

“Album ini adalah langkah awal kami untuk membangun dunia Mariontopsy secara utuh,” lanjut mereka. “Ke depan, kami ingin terus mengembangkan semesta Luna dan membawanya lebih jauh, baik secara musikal maupun visual.”

Menjelang perilisan awal 2026, Mariontopsy berencana membagikan materi pendukung dan informasi lanjutan terkait O LUNA VILE. Bagi penikmat musik ekstrem, album ini layak masuk dalam daftar rilisan yang patut ditunggu.

Senin, 22 Desember 2025

Trio pemuda selatan Gunungkidul, Wakeupkids! rilis “Titik Temu” jelang debut EP tahun depan.

 



Unit Pop Punk asal Gunungkidul, Wakeupkids! , merilis single “Titik Temu” sebagai salam pembuka menuju debut EP  bertajuk “Cycle of Affection” yang akan diluncurkan tahun depan.

Band dari padukuhan yang terletak di pesisir selatan Gunungkidul bernama Walikangin yang identik dengan kehidupan pedesaan mencoba relevan dengan masyarakat urban dengan cara memainkan musik modern pop punk. Dalam kesehariannya, mereka tidak meninggalkan budaya tradisional yang melekat begitu saja, karena para personil Wakeupkids! juga menjadi pengiring musik kesenian Jathilan di kampung mereka.

Kisah tentang seorang pemuda desa yang sebenarnya sudah putus asa dalam dunia percintaan karena seringnya mengalami kegagalan. Tetapi, pada akhirnya dapat menemukan dambaan hati yang selama ini dicarinya. Dikemas dengan ciamik melalui single “Titik Temu” yang akan dirilis di seluruh DSP pada  Sabtu, 20 Desember 2025. Hal ini sebagai langkah berani Wakeupkids! untuk menembus industri musik dengan keterbatasan akses yang mereka alami selama ini.

“Band ini dibentuk bukan hanya untuk mengejar ketenaran atau sekadar hobi, tetapi untuk menciptakan ruang di mana setiap emosi, dari sedih hingga bahagia, bisa diterjemahkan menjadi musik yang membuat pendengar merasa ‘ada yang ngerti’. Kami ingin suara kami menjadi jembatan antara kesepian dan kebersamaan, antara kegemparan hidup dan momen sunyi.”  Tegas Afilan Bagti selaku gitaris dan vokalis. 

Melalui lagu ini, Wakeupkids! ingin mendekatkan diri dengan para pendengar, serta dapat menemani momen-momen yang dialami pendengar mereka.

“Jadi, lagu ini seperti rajutan kesedihan dan kebahagiaan di tengah hiruk pikuk kehidupan remaja, sekaligus pengingat bahwa kita bisa saling mendukung lewat irama dan lirik. Intinya, tujuan kami adalah bikin musik yang tidak cuma didengar, tapi juga dirasa dan bisa menyatukan orang-orang dari desa maupun kota, dengan latar belakang yang berbeda melalui nada dan ritme yang kami bawakan.” Lanjutnya.


Dengan dirilisnya lagu ini, Wakeupkids! seakan ingin mengatakan
bahwa tidak ada batasan dalam berkarya, faktor geografis bukan penghalang bagi kreativitas manusia.



Minggu, 30 November 2025

"Koloni Dogmatis", Jadi Single terbaru Unit Death Metal Asal Jember, "FRAG OUT"



 


Fragout Unit death metal asal jember Jawa Timur, merilis single berjudul " koloni dogmatis ".


Band ini terbentuk dari 2020 beranggotakan Rendi Gitar, Abi Bass, Fahmi Drum, Robby Vocal , single " koloni dogmatis " Bercerita tentang bentuk kritik terhadap aparat yang mudah dikendalikan oleh penguasa, dan bertindak seenaknya dengan warga sipil dan tidak sedikit menimbulkan konflik disana.

Harapan kami fragout adalah " Semoga dengan adanya single ini kita bisa memberi warna baru dan meramaikan dengan musik kita di dunia death metal Indonesia terutama di kota kita sendiri yaitu jember. Dan ini adalah bentuk awal dari kami karena masih ada beberapa lagu yang belum kami rilis dan Semoga akan dirilis di tahun 2026 mendatang "

Proses lagu digarap oleh Gangsar_Recording dan mixing mastering digarap langsung oleh Jandiek Firmanda dari Gangsar_Recording





Jumat, 18 Juli 2025

“Galat”, Jejak Perdana Vortex of Hatred dalam Lanskap Metal Indonesia

 



Setelah melalui fase pencarian identitas dan pergulatan formasi, Vortex of Hatred akhirnya menorehkan tonggak penting dalam perjalanan mereka. Kemarin, band metal asal Yogyakarta ini resmi merilis album penuh perdana bertajuk Galat, sebuah karya yang menjadi penanda lahirnya babak baru yang lebih gelap, matang, dan tanpa kompromi.

Galat hadir sebagai refleksi atas kekacauan sosial, konflik batin, dan kesalahan-kesalahan manusia yang berulang dalam pusaran sistem dan kekuasaan. Judulnya sendiri, Galat merepresentasikan sesuatu yang keliru namun terus diwariskan, dipelihara, bahkan dinormalisasi.

Bagi Vortex of Hatred, perilisan ini juga menandai transformasi musikal yang signifikan. Jika sebelumnya mereka dikenal dengan pendekatan metalcore, di album ini mereka melangkah lebih jauh ke wilayah death metal yang lebih brutal, teknis, dan atmosferik, dengan sentuhan progresif dan nuansa gelap yang kental.

Riff-riff berat disusun berlapis, groove dipertajam, dan tempo agresif dipadukan dengan bagian-bagian ambient yang menciptakan ketegangan emosional. Vokal terdengar lebih buas dan penuh amarah, namun tetap terkontrol, seolah menjadi narator dari kekacauan yang sedang diceritakan.

Galat memuat sembilan komposisi yang saling terhubung secara konseptual. Lagu-lagu seperti “Parade Banal”, “Mencekik Doksa”, dan “Pusaran Kebencian” menjadi tulang punggung album,menyuguhkan kritik sosial dengan bahasa simbolik dan diksi yang tajam. Tidak ada upaya untuk terdengar ramah; album ini memang diciptakan untuk mengguncang dan mengganggu kenyamanan.

Alih-alih mengejar kompleksitas berlebihan, Vortex of Hatred memilih pendekatan yang terstruktur namun tetap liar, membuat Galat terasa solid sebagai satu kesatuan utuh, bukan sekadar deretan track terpisah.

Momen perilisan album ini dirayakan secara intim namun intens di Yogyakarta. Panggung diperlakukan layaknya ruang ritual: pencahayaan minim, atmosfer berat, dan penonton yang larut dalam energi mentah yang dilepaskan. Tanpa banyak basa-basi, Vortex of Hatred membiarkan musik berbicara,keras, brutal, dan jujur.

Respons yang muncul menunjukkan bahwa Galat diterima sebagai karya serius, bukan hanya debut biasa. Banyak yang melihat album ini sebagai langkah berani yang memperkuat posisi Vortex of Hatred di peta metal underground Indonesia.

Sebagai album perdana, Galat bukan penutup perjalanan, justru sebaliknya. Ia menjadi fondasi bagi eksplorasi yang lebih jauh dan lebih ekstrem di masa depan. Dengan identitas yang kini terasa lebih solid dan visi yang jelas, Vortex of Hatred menunjukkan bahwa mereka datang bukan untuk sekadar mengisi ruang, tetapi untuk mengoyak dan meninggalkan bekas.



Senin, 23 Desember 2024

HORUSH Melepas “Armageddon”, Album Debut Penuh Amarah dari Jogja

 





HORUSH
, band death metal asal Yogyakarta, Indonesia, resmi merilis album penuh debut mereka yang bertajuk “Armageddon” pada pertengahan Desember 2024 , dan kini musiknya masih menggema di kalangan penggemar metal tanah air serta komunitas underground. 


Band yang digawangi oleh Prass Aprek (Gitar & Vokal), Alfian Kurnia Ramadhan (Gitar), Burhannudin (Bass & backing vokal) dan Yana Samudra (Drum) ini telah aktif berkarya sejak 2019 setelah sebelumnya dikenal dengan nama Treatment (2010–2019). Genre mereka jelas berada pada death metal ekstrem, dengan ritme cepat, riff tajam, dan vokal growl yang intens.

Armageddon” menandai tonggak penting dalam perjalanan HORUSH sebagai album penuh perdana, merangkum energi, agresi, dan karakter khas musik mereka, death metal yang gelap. Dirilis pada 15 November 2024 (digital) dan mencapai distribusi yang lebih luas sepanjang Desember, album ini sekaligus menjadi perayaan bagi fans setelah bertahun-tahun menanti rilisan besar dari band ini.

Album ini tersedia dalam format streaming dan unduhan berkualitas tinggi melalui platform seperti Bandcamp, Apple Music, dan Amazon Music.

“Armageddon” hadir dengan 10 trek penuh energi yang membawa pendengar melalui tema-tema pertempuran, keputusasaan, dan konflik batin — semuanya dibalut atmosfer ekstrim dan riff yang menghantamThe Dawn of War (Intro)

  1. Armageddon

  2. Sajak Terbata

  3. Healing Maker

  4. Surga Ilusi

  5. G.O.D

  6. 7

  7. Monotheism

  8. Perserikatan Lobi Hexagon

  9. End of Salvation

Album ini sendiri merupakan hasil kerja kolaboratif sejumlah pihak penting di scene metal.

Pendekatan produksi ini menunjukkan dedikasi band untuk mempertahankan nuansa mentah dan organik, tetap setia pada akar underground namun juga cukup profesional untuk menggaet pendengar lebih luas.

Sejak dirilisnya “Armageddon”, album ini semakin memperkuat posisi HORUSH di kancah metal Indonesia dan khususnya Yogyakarta ,sebuah kota yang dikenal pula melahirkan berbagai band metal underground lainnya. Fans memuji intensitas komposisi dan kualitas produksi yang solid, sementara komunitas scene lokal menilai perilisan ini sebagai langkah berani horush untuk bersaing di ranah death metal yang penuh persaingan.

Album “Armageddon” bukan hanya menjadi debut penuh bagi HORUSH, tapi juga merupakan pernyataan artistik yang kuat dari sebuah band death metal Jogja yang matang secara musikal dan berani mengambil langkah besar dalam dunia musik cadas Indonesia. Dengan komposisi yang agresif, produksi solid, dan distribusi yang memadai, HORUSH kini siap untuk melangkah lebih jauh di scene nasional bahkan internasional.








Jumat, 31 Mei 2024

DISSECTED lepas "Carnage Resurgance" sebagai EP perdana mereka



DISSECTED, merupakan band asal Jogja yang mengusung genre slamming death metal, dan terbentuk di tahun 2011. Di tahun 2024 ini DISSECTED merilis E.P pertama mereka yang bertajuk "Carnage Resurgance" , yang berisikan 4 lagu baru mereka dan 2 lagu yang pernalh dirilis di demo 2012. Dan masih di tahun ini pula, dikabarkan mereka tengah fokus untuk menggarap album terbaru.

  Dengan formasi awal Bono ( Rottenpig, Leftyfish, Droshophila) pada drum, Yoyok (Kasedan) pada bass, dan Windu sebagai vokal. Seiring setahun berjalan, pada tahun 2012, Danang Saputra masuk menggantikan Evendi, dan Galih Widhi masuk mengisi posisi bassis, sedangkan drummer diisi oleh Hafid. Dalam formasi ini mereka berhasil merilis demo yang mendapatkan respon cukup baik dari para metalhead, hingga mendapat kesempatan untuk melibas berbagai event di tanah air. Kabar buruk terjadi di tahun 205 dimana drummer mereka, yakni Hafid mengalami kecelakaan sehingga memaksa band harus vakum cukup lama.

Tahun lalu, Danang mencoba merakit kembali DISSECTED yang menyisakan dirinya, Windu dan Galih. Dua mekanik baru yakni Fajar Hanafi (gitar) dan David (drum) masuk dan memberikan kesegaran dan nuansa baru bagi mereka.
Dengan formasi terbaru ini lahir EP "Carnage Resurgance" yang telah dirilis tahun ini. Beberapa lagu yang mereka jadikan andalan dalam EP ini adalah Carnage, Rape, dan Underestimated.

Dengan influence yang bengis, lintas skena dan intens tanpa kehilangan nafas beatdown khas slamming, di tahun 2024 ini DISSECTED sedang meracik  materi baru yang beberapa diantaranya akan sudah bisa kalian dengarkan di gigs-gigs yang akan mereka jalani kedepan. teaser dan informasi terbaru dari mereka akan dirilis dan diupdate melalui akun official mereka. 

EP mereka "Carnage Resurgance" juga sudah bisa kalian dengarkan di DSP kesayangan kalian. 







Selasa, 28 Mei 2024

"Armageddon", bakal jadi titik baru di perjalanan HORUSH

 


Salah satu unit death metal asal kota Jogja, HORUSH, bakal merilis album perdana mereka di bulan Juni. Horrible Creation, salah satu label Indo asal kota Bandung menjadi tempat bernaung mereka untuk menelurkan album pertama mereka yang diberi judul "Armageddon".

Horush sendiri sebelumnya bernama Treatment dengan mengusung genre slamming death metal di awal berdirinya, yang kemudian berubah menjadi death metal seiring perjalanan mereka bermusik. Nama Horush sendiri mulai dirubah di tahun 2019 dimana terjadi pergantian formasi pada player Horush dengan keluarnya salah satu gitaris mereka, yakni Silol.

Di album "Armageddon" yang akan segera rilis, Horush banyak terinfluence dari band seperti Hour of Penance, Obscura, dan Necrophagist. Mereka juga akan menggelar tour di beberapa titik kota di Tahun ini.

Formasi Horush saat ini adalah :
- Aprek (Gitar x Lead Vocal)
- Yana Samudra (Drum)
- Burhanudin (Bass x Back Vocal)
- Alfian (Gitar)

Official Social Media HORUSH :
Facebook



MONOTEISME Lepas single kedua mereka yang berjudul "Entitas Kemahakuasaan"

 



"Entitas Kemahakuasaan", menjadi single kedua dari band metal asal kota Tegal, MONOTEISME. Band yang mengusung genre slamming brutal death metal ini sebelumnya juga telah merilis single perdananya di tahun 2023 dengan judul "Paradoks". "Entitas Kemahakuasaan" resmi dirilis melalui youtube channel mereka pada tanggal 14 Mei 2024.

Monoteisme sendiri terbentuk 3 tahun lalu pada tahun 2021 dan banyak terinfluence dari band slamming brutal seperti Extermination Dismemberment. 

Dalam single keduanya, Monoteisme melandaskan lagu "Entitas Kemahakuasaan" berdasar pada pertanyaan dari tiap personil tentang sosok entitas Yang Maha Kuasa.

Single kedua mereka ini dapat kalian dengarkan di platform youtube Monoteisme.

JOGJA BREBEG 2024 bakal datangkan BELPHEGOR dan DISAVOWED


Jogja Brebeg merupakan event underground pertama di Kota Jogjakarta. Acara ini telah berlangsung sebanyak 23 kali sejak tahun 1996 hingga 2016, dengan genre musik Death Metal dan Black Metal menjadi prioritas utama. Jogja Brebeg merupakan sebuah acara yang menjadi wadah berkumpulnya band-band underground tanah air. Banyak band besar tanah air yang pernah ambil bagian dalam acara ini. 

Jogja Brebeg menjadi ajang yang riuh dan booming bagi pecinta musik metal di Jogjakarta. Dan tahun ini Jogja Brebeg akan kembali hadir pada edisi ke-24 di tahun 2024 ini dengan format yang berbeda dari sebelumnya. Pada edisi ke-24 ini, Jogja Brebeg akan menghadirkan BELPHEGOR, band black death metal asal Salzburg, Austria . Selain itu, dalam unggahan resmi official Jogja Brebeg terbaru, di event kali ini akan datang pula monster brutal death metal asal Belanda, yakni DISAVOWED. 


Sabtu, 25 Mei 2024

ARCH ENEMY buat Jakarta membara untuk kedua kalinya

 


Arch Enemy , band melodic death metal Halmstad, Swedia, untuk kedua kalinya menyambangi Jakarta. Berbeda dengan kedatangannya untuk pertama kali, kali ini Arch Enemy datang dengan vokalis baru mereka Alissa White-Gluz.

Sebelum ke Jakarta, Arch Enemy sempat menyambangi beberapa negara di Asia seperti Korsel, China, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Thailand. Dalam konser mereka di Jakarta, mereka ditemani oleh beberapa band lokal yakni Ejakula La Vampira, Modern Guns, Konfliktion, Straightout, Noxa dan Burgerkill. Selain itu ada pula band asal Rusia , Amalgama yang turut memanaskan panggung besutan Noxa Fest dan Stayounxfest kali ini.  




FYI, Arch Enemy sendiri terbentuk pada tahun 1995. Anggotanya tergabung dalam band-band seperti Carcass, Armageddon, Carnage, Mercyful Fate, Spiritual Beggars, The Agonist, Nevermore, dan Eucharist. Didirikan oleh gitaris Carcass Michael Amott bersama dengan Johan Liiva, yang keduanya berasal dari band death metal Carnage. Band ini telah merilis sebelas album studio, tiga album live, tiga album video, dan empat EP. Band ini awalnya digawangi oleh Johan Liiva, yang digantikan oleh vokalis Jerman Angela Gossow pada tahun 2000. Gossow meninggalkan band pada Maret 2014 untuk menjadi manajer grup dan digantikan oleh vokalis Kanada Alissa White-Gluz.




Jumat, 24 Mei 2024

VORTEX Lepas demo perdana yang berisikan dua lagu, Sintas & Feared

 




VORTEX merupakan unit metal yang terbentuk di Yogyakarta pada 2021. Mulanya mereka memainkan musik metalcore yang dipadu dengan nuansa grindcore dan hardcore. "Meradang Menerjang" yang diolah dari puisi Aku Chairil Anwar dan dirilis pada tahun 2022 merupakan representasi dari hal tersebut.
  
Di tahun yang sama, mereka meluncurkan single kedua yang bertajuk "Antipati". Di single kedua ini nuansa hardcore sudah mulai memudar dan lebih condong ke arah metalcore dan groove dengan sentuhan death metal.

Terjadinya pergantian personil membawa perubahan Vortex ke arah musik yang lebih cepat namun tidak meninggaknan nuansa groove. hal ini ditunjukkan dengan perilisan Promo 2024 mereka yang berisikan dua materi "Feared" dan "Sintas". Lirik "Feared" menceritakan kegelisan akan kematian dan pertanyaan-pertanyaan eksistential akan kehidupan, sementara "Sintas" bercerita tentang upaya bertahan dari pelenyapan identitas.

Band-band seperti Daath, Lamb of God, Bleed From Within, dan Decapitated menjadi rujukan mereka saat ini. Promo mereka dirilis secara fisik dalam bentuk CD dan tayang di Youtube channel Vortex pada 19 Mei dan 1 Juni 2024 pada pukul 18.00 WIB.

Kedua materi direkam, mixing dan mastering di Southstar Record. Sementara artwork dikerjakan oleh Briyan farid, dan video lirik dikerjakan oleh Ajx.ey.

Adapun member Vortex saat ini adalah AJX (Vocal), Fajar (Gitar), David (Drum).

Official Media VORTEX: 

- Instagram

- Facebook







Kamis, 04 November 2021

"Paradoks", sebuah titik awal bagi MONOTEISME, slamming brutal death metal dari Tegal


    "MONOTEISME" adalah salah satu band slamming brutal death metal yg lahir di kota Tegal pada September 2021. Berawal dari sosial media, sang vocalis Reza Adi yang tadinya hanya sebagai penikmat musik menginginkan punya band untuk ikut andil dalam berkarya melalui band. Dan di salah satu kolom komentar Reza Adi meluapkan keresahan tersebut. Tidak sengaja Dheny pun sebagai kerabat nya melihat luapan itu, yang kemudian mengajak Reza untuk membentuk sebuah band yang bergenre slamming. 

    Berawal dari situlah, mulailah dicari nama yang pas untuk band ini.Dengan idenya Reza ternyata sudah terkonsep sebelumnya. dan tercetus lah nama MONOTEISME. Tidak lama kemudian bergabung lah Alvin dan Roy Rukhin yang merupakan kerabat Dheny menambah kebuasan di band ini. Dan untuk saat ini MONOTEISME di gawangi oleh 4 pemuda, yaitu Reza Adi (Vocal), Dheny (guitar) Alvin (Bass), dan Roy Rukhin (Drum).

    Dalam waktu dekat, MONOTEISME bakal merilis single perdananya yang berjudul "Paradoks" dibawah naungan Ear Fussion. Lagu ini bercerita tentang pemuka agama di masa lalu namun paradoks. Single ini menjadi tentu akan menjadi sebuah titik awal bagi Monoteisme untuk terus berkarya di dunia musik metal. Dikabarkan, band ini juga tengah mempersiapkan materi untuk merilis EP tahun depan. 



 

Kamis, 21 Oktober 2021

"Chapter II: The World Breed Despair" Jadi Salam Perkenalan PRISMAL DAWN

 

  

  Di scene musik tanah air, ada banyak sekali band metal yang lahir setiap harinya. Masing-masing membawa banyak sekali hal menarik baik dari sisi lirik, musik, maupun ideologi. Apalagi metal merupakan genre musik yang sangat luas cakupannya dan merupakan genre yang sangat terkenal bebas mengekspresikan apapun di dalamnya. Bicara soal skena musik metal, di Indonesia, Bekasi menjadi salah satu wilayah yang punya cukup banyak jagoan-jagoan metal. Salah satu yang sudah terkenal seantero Indonesia adalah Viscral. Band yang sudah memulai perjalannya sejak 2007 di dunia metal Indonesia ini telah memberikan banyak kontribusi buat skena metal Indonesia. 

    Selain pernah menjelajah panggung tanah air, Viscral juga beberapa kali mentas ke luar negeri. Selain Viscral, masih ada beberapa band lagi yang kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Bicara soal Bekasi dan genre metal, ada satu band baru yang ingin membagikan karyanya ke khalayak ramai. 

    Dia adalah Prismal Dawn, band beraliran melodic death metal yang telah menelurkan single debutnya beberapa waktu lalu. Prismal Dawn sendiri mengaku terpengaruh dari band-band Swedish death metal yang juga lekat dengan genre melodic death metal seperti Arch Enemy, At The Gates, dan The Black Dahlia Murder. Uniknya, band ini terbentuk di tengah pandemi COVID-19. Merasa ingin mengekspresikan diri sekaligus melestarikan genre melodic death metal, band ini akhirnya terbentuk. Diawali oleh dua orang yaitu Dede Iskandar di posisi gitar dan Adi di posisi drum, band ini mulai menyusun materi serta mencari personel. 

    Lambat laun materi mulai terkumpul dan beberapa orang mulai bergabung ke dalam band ini. Pertama posisi bass diisi oleh Jar dan gitar kedua diisi oleh Tiro. yang ternyata Jar tidak bertahan lama bersama Prismal Dawn. Keharusannya memilih dan fokus di salah satu bandnya membuat dia terpaksa harus angkat kaki. Posisi kosong di bagian bass ini kemudian diisi oleh Hilman. Menariknya, bergabungnya Hilman ke dalam band tidak jauh dari Zakiy yang mengisi posisi vokal. Kedua personel ini bergabung dan mampu membantu Dede dan Adi merampungkan single perdana Prismal Dawn. Adalah kesamaan selera bermusik yang pada akhirnya membuat Prismal Dawn tetap kokoh untuk merampungkan materi-materi yang sudah mereka kumpulkan. Sejauh ini sudah ada lima materi yang siap mereka garap untuk dijadikan E.P atau full album. 

    Adalah Chapter II: The World Breed Despair yang menjadi single pembuka mereka untuk memperkenalkan diri dan melestarikan genre melodic death metal yang bisa dibilang kurang diekspos untuk saat ini. Di era modern seperti saat ini, genre seperti progressive metalcore, djent, dan deathcore menjadi genre yang sedang naik daun. Tapi Prismal Dawn memilih untuk tetap tampil “old school” dengan mengusung genre Melodic Death Metal yang sangat terkenal di akhir era 90-an sampai awal era 2000-an. Uniknya, meski mengusung genre Melodic Death Metal, Prismal Dawn juga mencampurkan ragam genre lain dari skena metal. Di lagu Chapter II: The World Breed Despair, Prismal Dawn menggunakan riff-riff gitar dengan distorsi super tebal yang menjadi ciri khas band Melodic Death metal. 

    Sedangkan pada bagian drum, mereka memilih untuk mengisinya dengan sentuhan-sentuhan Thrash Metal. Dengan perpaduan yang ciamik ini, lagu yang disajikan lebih bertenaga, cepat, namun tetap menjadi lagu yang bisa dinikmati banyak orang. “Konsep awal dari musik yang kami usung terutama dari single yang sudah kami rilis adalah menyajikan musik yang masih bisa dinikmati oleh para metalhead. Musik ini tidak begitu kencang, tapi tetap mempertahankan sisi buasnya.” “Adapun Chapter II: The World Breed Despair memiliki kisah mengenai seseorang yang menuhankan ilmu pengetahuan tanpa menganggap bahwa sang pencipta itu ada.

    Orang-orang ini berpikir bisa melakukan segala hal tanpa adanya campur tangan yang maha kuasa. Pada akhirnya orang-orang tersebut terjebak dalam keputusasaan di mana sebenarnya mereka adalah makhluk yang tidak bisa melakukan segalanya sendiri.” Selain ingin mewujudkan E.P atau full album, mereka juga kini fokus untuk mencari gigs khususnya di area Jabodetabek untuk memperkenalkan lebih luas lagi musik mereka kepada para metalhead. Chapter II: The World Breed Despair sendiri sudah resmi dirilis di berbagai platform streaming musik seperti Spotify, Joox, dan Youtube.




Perkenalkan Vokalis Baru, BEBAS PUKUL Rilis Single "Primordial"

 


Setelah mengeluarkan single “Konfrontasi” di tahun 2020 kemarin, kali ini Bebas Pukul dengan formasi baru yaitu, Aldyra Yoga (Vocal), Tendik (Gitar), Faisal (Bass) dan Dedi (Drum), kembali mengeluarkan single terbaru di tahun ini dan diberi judul "Primordial". Materi ini sebetulnya dari album kedua mereka yang bakal rilis pada akhir tahun mendatang. Dari segi musik Bebas Pukul terinspirasi dari band-band seperti  : Jinjer, Gojira, Adrenaline Mob. Proses penggarapan lagu ini dikerjakan di Straight music studio yang ada di Bojonegoro. Lagu ini merupakan konsep yang berbeda dari album sebelumnya yaitu Noise Vol. 1, dan dari segi musikal lebih bereksperiment pada lagu ini. Dengan karakter vocalis baru tentunya menambah gairah baru serta warna baru bagi Bebas Pukul untuk kedepannya. Lagu ini sudah tersedia pada channel youtube mereka. Pada tahun ini Bebas Pukul sedang sibuk mengumpulkan materi untuk album kedua, dimana mereka ingin menyajikan music yang lebih berwarna.

Tentunya dengan materi baru ini, mereka juga memperkenalkan vocalis kami yaitu Aldyra Yoga, sekaligus memberikan gairah baru dan juga warna baru pada music, kehadiran vocalis ini tentunya menjadi gambaran konsep music untuk album kedua mendatang. Kendala pandemi yang melanda tidak menghambat kreativitas dalam berkarya. Pada tahun ini Bebas Pukul tepat menginjak usia 7 tahun semenjak band ini berdiri pada tahun 2014 lalu. Pergantian personil juga terjadi pada formasi ini yaitu, drummer kami sebelumnya Refli digantikan oleh Dedi yang sebelumnya juga merupakan personil Bebas Pukul.

“Kami sudah ada materi baru untuk album kedua, dan kami ingin memberikan penyegaran terutama dari segi karakter vocal Bebas Pukul. Kami ingin membuat materi yang lebih tematik dan juga album yang lebih terkonsep, sebuah album yang bakalan berbeda dari album sebelumnya, dan juga ada promo serta tur. Lagu Primordial ini juga merupakan pembuktian kepada khalayak ramai akan eksistensi Bebas Pukul yang masih terus berkarya, kami juga ingin memberikan (karya) yang baru dari segi penentuan sound, dan juga lebih heavy tentunya”.




Selasa, 05 Oktober 2021

Setelah 8 Tahun , GORE INSTINCT Akhirnya Siap Melanjutkan Kebengisan


 

    Siapa yang tidak tahu band asal Bandung ini? Untuk pecinta death metal, khususnya slamming brutal death, tentu nama Gore Instinct sudah tidak asing lagi, karena memang Gore Instinct adalah satu unit slamming brutal death metal yang sudah malang melintang sejak lama. Gore Instinct bisa dibilang penjadi penerus kesuksesan slamming era pertama, yang saat itu dimotori Venomed dan Turbidity . Kedua band yang mengeluarkan Demo pada tahun 2009 ini mengawali masa keemasan musik slamming di kala itu. Yang kemudian disusul band-band lain seperti Death Artery yang mengeluarkan album Chapter of Human End (2012) dan Gore Instinct dengan EP nya, Invasion of Body Slammer di tahun 2013.

    Setelah hampir 8 tahun sejak EP mereka rilis, kini band yang dimotori oleh Pungky Heriansyah ini tengah  mempersiapkan sebuah kejutan yang akan dirilis oleh Underrated Records. Dari pantauan akun official media sosial mereka, terlihat para player sudah melakukan rekaman. Akun official Underrated Records sendiri juga telah mengumumkan kabar bengis ini, dimana promo yang bertajuk "Orgasm Trough Putrid Stench" akan dipersiapkan. Jadi, bakal seperti apakah kebengisan dari Gore Instinct ? Tentu kita semua sudah tidak sabar untuk menanti hasilnya.


Minggu, 05 September 2021

"I Am Hanna", Kisah Boneka Hidup Sajian Dari MANNEQUIN GORETUARY Yang Dibungkus Musik Slamming Brutal Death

 


Salah satu unit slamming brutal death asal Yogyakarta, yakni Mannequin Goretuary, resmi merilis debut albumnya pada 31 Agustus 2021. Band yang dimotori oleh Riry (gitar, vokal) dan Riki (drum) ini bekerjasama dengan Dismembered Records dalam merilis “I Am Hanna”, judul album mereka.

Album ini berisikan 8 track membanting dengan total durasi lebih dari 30 menit, menawarkan riff-riff membanting dan groove dengan kombinasi blastbeat drum yang cepat. Mengambil konsep dan tema  sesuai dengan nama mereka (Mannequin), album ini menceritakan tentang perjalanan boneka hidup bernama Hanna yang mencari jati dirinya.

Dua vokal tamu yang dihadirkan, semakin menambah keganasan dari I Am Hanna. Andri Suryanto yang merupakan ex vokalis band-band berbahaya tanah air (Lumpur, Digging Up, Turbidity, Bleeding Corpse), mengisi satu track yang berjudul “A Story Begin”, sebuah cerita pembuka untuk perjalanan Hanna. Di tiga track berikutnya, yakni Mindless Torture, Hunting Down The Suspect, dan Agonize For Revenge, diisi oleh Calin Paraschiv, gitaris sekaligus vokal dari monster slamming brutal death asal Portugal, Analepsy. Tiga karakter vokal yang berbeda ini membuat komposisi album menjadi lebih kompleks.

“ Proses paling lama dari penggarapan album ini mungkin adalah mencari sound yang pas, karena kami (band) dan label ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari music sejenis pada umumnya “ ungkap Riry .

Riki sang drummer menambahkan bahwa pandemi juga menjadi faktor yang menyulitkan, “ Selama pandemic, player jadi jarang ketemu, jarang latihan. Tapi sisi positifnya, penulisan draft materi lebih cepat, karena dipaksa dirumah saja. Mau gak mau ya berkarya, harus berkarya!! “ .

Selain rilis fisik, album ini juga bisa kalian nikmati lewat platform-platform digital seperti Spotify, Joox, Amazon Music, Youtube Music, I Tunes dll. 


MANNEQUIN GORETUARY 

Asal : Jogjakarta, Indonesia 

Genre : Slamming / Groove Brutal Death Metal

Label : Dismembered Records 

Member : Riry – Gitar, Vokal, Bass Session Riki – Drum 

Connect with Mannequin Goretuary :

https://www.instagram.com/mannequin_goretuary/

https://facebook.com/mgoretuary

https://open.spotify.com/album/3Pto4U1pdyjEzm7QmUR2vi



I AM HANNA (Debut Album) 

Rilis : 31 Agustus 2021 

Label : Dismembered Records 

Tracklist : 

1. In The Beginning 

2. A Story Begin (Ft Andry Suryanto) 

3. Mindless Torture (Ft Calin Paraschiv)

 4. Hunting Down The Suspect (Ft Calin Paraschiv) 

5. Agonize For Reveng (Ft Calin Paraschiv) 

6. Neglected With Hatred 

7. Noxious Girl 

8. An Answer


Rabu, 05 Mei 2021

"Live From Down Below", Live Session Video Yang siap dilepaskan CRASHEAD via Winsome Incorporation

     


    Suara-suara itu terdengar dari sebuah kota di tengah pulau Jawa. Suara yang berbalut amarah dan hentakan kesadaran tentang ketidakadilan. Amarah terdengar kuat dalam setiap baris lirik yang dilontarkan. Menggelegak dengan distorsi yang kuat unsur hardcore-nya. Crashead adalah band hardcore yang berasal dari Kota Solo, kota yang dalam beberapa waktu menjadi pusat perhatian dengan segala dinamika kuasa-Nya. Mereka muncul bak penguat para penyeimbang suara dari ranah seniman. Kemudian mengawali 2021 dengan sebuah peringatan menjadi momentum bagus untuk Crashead bersuara. 

    Paling tidak menjaga niat karya dan idealisme tetap bergerak pada rel-nya. Berkutat dengan oldskool hardcore sedari awal muncul, membuat kawanan Ari Fajar Yunanto (bass/vokal), Thomas Suryo Aji (gitar), Yusi Ridho Arfanda (drum) dan Hafidz Nufus (vokal) haru kukuh bertanggung jawab. - Niat rilis mini album tahun 2021 harus diluncurkan, Dan dengan dibantu oleh rekan rekan dari WINSOME INCORPORATED maka terselenggaralah sebuah live studio session atau live session yang merupakan salah satu program baru yang dibentuk oleh Wildhan Andhi dan team hebat dari Winsome Incorporated.

     Dan Crashead termasuk salah satu pertanda dimulainya ritus yang diberi nama Live From Down Below ini. Dan dikerjakan didalam studio music milik Winsome sendiri. Setelah sukses dengan marathon gigs No Sun For Tomorrow yang cukup menghebohkan karena Winsome tidak tanggung tanggung dalam memainkan band pengisi seperti Hexis, Grace, Warthole, Depresi Mayor dan masih banyak lagi. - Dan dalam sesi ritus kemarahan kali ini Crashead berkesempatan membawakan 4 peluru tajam, yang diambil dari stock amunisi mini album dari Crashead yang diberi nama Struggle. Peluru peluru itu bernama Into The Rage, Disobey, Struggle, Anjing Tirani. Dan dengan diselingi sebuah interview singkat dibalut dengan guyonan ala ala tongkrongan dan tentunya tetap santai dalam membahas serba serbi skena bawah tanah di kota Bengawan ini.

    Dengan diadakannya program Live From Down Below ini semoga bisa membuat sebuah gebrakan baru diskena music tanah air tekhusus local, karena Indonesia tidak melulu soal Jakarta, Bandung, Semarang, dan kota kota yang sering disebut kota besar lainnya. Indonesia masih mempunyai Solo, yang notabene banyak bibit bibit unggul dalam hal kesenian yang kurang mendapat perhatian. Semoga juga bisa Saling bersinergi, karena dari sini Crashead juga belajar bahwa semua bisa terkoneksi dari musisi, sound enginer, fotografer dan vidiografer semua ikut terjun. Dan program ini rencananya akan ditayangkan pada tanggal 8 Mei 2021 via platform Youtube dalam channel Winsome Tv.